Harga emas terus di bawah tekanan


JAKARTA: Harga emas berada di bawah tekanan untuk kembali merosot. Logam ini mendekati level terendahnya dalam 7 pekan setelah terpangkas 2,6% kemarin.

Penurunan lebih lanjut dimungkinkan sejalan krisis utang Eropa meningkatkan permintaan dolar sebagai mata uang yang aman, bercampur dengan efek rekor kepemilikan produk emas yang diperdagangkan di bursa.

Emas untuk pengiriman segera turun dalam 2 hari terakhir, melemah 0,9% menjadi US$1.651,48 per troy ounce, level terendah sejak 25 Oktober. Kontrak ini diperdagangkan pada US$1.654,93 per troy ounce pukul 9.34 waktu Singapura.

Harga logam ini menyentuh US$1.657,60 kemarin. Emas lantakan pengiriman Februari juga sedikit berubah pada US$1.670 di Comex, New York.

Kepala Riset Real Time Futures Wahyu Laksono, dalam analisis teknisnya, menyebutkan jika harga menembus di bawah US$1.666 maka berpotensi terus turun ke area US$1.648—US$1.626.

Menurutnya posisi support kuat pada US$1.603 per ounce, namun jika tertembus harga bisa terus turun ke US$1.582.

"Hanya jika [harga] menembus US$1.724 maka bisa menegasikan kondisi bearish, untuk membuka peluang US$1.730—US$1.756," tulisnya.

Hal yang hampir sama diungkapkan analisis teknis Monex Investindo Futures yang dipimpin Ariston Tjendra. Menurut Monex bias bearish terjadi dalam jangka pendek, terutama jika harga dapat ber tahan di bawah area US$1.665, sebelum menguji area US$1.635.

Sementara itu, dolar diperdagangkan mendekati level tertingginya dalam dua bulan terhadap euro sehari setelah Moody Investors Service mengatakan bahwa mereka akan meninjau peringkat kredit negara-negara Uni Eropa.

Rupanya pertemuan puncak pemimpin UE tidak memuaskan agensi pemeringkat itu. Eropa belum mengakhiri krisis utang.

"Krisis yang sedang berlangsung di Eropa menjaga dolar AS tetap kuat terhadap euro, yang mungkin membuktikan angin sakal untuk emas," tulis Lachlan Shaw, analis Commonwealth Bank of Australia, seperti dikutip Bloomberg.