Indonesia berpeluang bangun Silicon Valley ASEAN



Bogor (ANTARA News) - Indonesia menjadi negara anggota Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) paling berpeluang dalam membangun pusat industri teknologi, informasi dan komunikasi (TIK atau ICT) semacam lembah silikon (Silicon Valley) di Amerika Serikat (AS).

Hubungan Masyarakat (Humas) Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI), Muarif, di Bogor, Jawa Barat, pada Selasa, menyatakan bahwa peluang tersebut dikemukakan Ketua MITI, DR Warsito P. Taruno, pada seminar nasional di Bandung.

Ia menjelaskan, dalam seminar nasional tentang "Pendidikan dan Pembangunan Iptek di Indonesia" yang diselenggarakan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Warsito P. Taruno menyatakan bahwa peluang itu ditunjukkan dengan kemampuan terbangunnya para teknopreneur dari kalangan muda Indonesia.

"Mereka lebih baik dari negara-negara berkemampuan di ASEAN, seperti Singapura, Malaysia atau Thailand," katanya.

Ia menimpali, "Riset terbaru tentang kondisi pembangunan sains dan teknologi di ASEAN menunjukkan adanya potensi besar tersebut."

Menurut dia, kemampuan tumbuhnya industri berbasis teknologi di Indonesia saat ini menunjukkan kecenderungan yang semakin besar, meski sedikit ada campur tangan pemerintah.

Apalagi, kata dia, inisiatif para ilmuwan atau sarjana Indonesia yang mengembangkan tumbuhnya industri ini jauh lebih besar dibandingkan ilmuwan atau sarjana di negara ASEAN.

Ia mengemukakan, kondisi berbeda terjadi di Singapura atau Malaysia. Kendati mendapat dukungan penuh pemerintah, industri berbasis teknologi tidak muncul dari para sarjana atau ilmuwan dari kedua negara tersebut.

"Padahal, pemerintah Singapura atau Malaysia mendorong dan memberi dukungan penuh kepada para sarjananya untuk mengembangkan `teknopreneurship`. Faktanya, dukungan yang menghabiskan dan jutaan dolar AS tersebut gagal," kata Warsito.

Ia mencontohkan, pemerintah Singapura mengucurkan dana hingga Rp9 triliun selama lima tahun untuk mengembangkan kewirausahaan di bidang teknologi (technopreneurships), namun gagal.

Demikian pula, mnurut dia, dengan Malaysia yang memberi hibah sebesar 5 juta ringgit atau setara 1,5 juta dolar AS kepada para sarjananya yang ingin membangun industri berbasis teknologi, namun tidak berlanjut karena minimnya peminat.

"Kondisi sebaliknya justru terjadi di Indonesia dengan kehadiran anak-anak muda yang membangun technopreneur, dan mulai menunjukkan hasilnya. Padahal, campur tangan pemerintah kepada mereka terbilang minim," katanya.

"Namun, hasil riset kami mendapatkan dorongan terbesar adalah pada kuatnya inisiatif dari mereka untuk mengembangkan usaha dengan basis ilmu yang mereka pelajari selama ini," kata doktor alumni Shizuoka University, Jepang, tersebut.

Ia kemudian mencontohkan beberapa perusahaan teknologi di Indonesia yang eksis dan berkelas dunia, seperti Terafulk (ship design and building), Xirca (chipset design), Edwar Technology (tomography imaging system manufacturing), Tesena (medical equipments), dan Solusi247 (Radar design).

Sementara itu, mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek), Suharna Surapranata, dalam seminar yang sama memandang pembangunan sains dan teknologi di Indonesia harus mengutamakan sinergi antarberbagai komponen bangsa, agar tercipta iklim yang sehat sehingga industri berbasis teknologi dapat tumbuh subur di negeri ini.